CANDI SAMBISARI - 21 Tahun Merangkai "Puzzle Batu Raksasa"
CANDI SAMBISARI
Alamat: Kalasan, Sleman, Yogyakarta, IndonesiaKoordinat GPS: S7°45'44.9" E110°26'48.7" (lihat peta)
Setelah terkubur selama ratusan tahun, bongkahan
pertama ditemukan pada tahun 1966. Memerlukan waktu 21 tahun untuk
menggali dan merangkai ratusan keping "puzzle" dari batu itu sebelum
akhirnya Candi Sambisari berhasil direkonstruksi.
21 Tahun Merangkai "Puzzle" Candi Sambisari
Tak ada perasaan aneh yang menghinggapi Karyowinangun
pada sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya
di sawah kala itu, ketika sedang mengayunkan cangkulnya ke tanah.
Cangkul yang diayunkan ke tanah membentur sebuah batu besar yang setelah
dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Karyowinangun dan warga
sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu.
Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu
pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun
sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga
merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah.
Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu
lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan
komponen sebuah candi.
Selang 21 tahun sesudahnya, keindahan candi akhirnya
bisa dinikmati. Bangunan candi yang dinamai Sambisari itu berdiri megah
di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman,
10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Anda bisa menjangkau dengan
berkendara melewati lintas jalan Yogya-Solo hingga menemukan papan
penunjuk menuju candi ini. Selanjutnya, anda tinggal berbelok ke kiri
mengikuti alur jalan.
YogYES sempat kaget ketika sampai di areal candi. Saat
mengarahkan pandangan ke tengah areal candi, hanya tampak susunan batu
atap yang seolah hanya bertinggi beberapa meter di atas tanah. YogYES
bertanya-tanya, apa benar Candi Sambisari hanya sekecil itu? Setelah
mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Candi Sambisari
berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya.
Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 -
838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi
terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2
pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar
sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di
sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga
patok yang tersebar di setiap arah mata angin.
Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai
alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi
sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan
polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya
berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian
luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.
Menaiki tangga pintu masuk candi induk, anda bisa menjumpai hiasan berupa seekor singa yang berada dalam mulut makara (hewan ajaib dalam mitologi Hindu) yang menganga. Figur makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya dengan ekor yang membengkok.
Selasar selebar 1 meter akan dijumpai setelah melewati
anak tangga terakhir pintu masuk candi induk. Mengelilinginya, anda akan
menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi sebuah arca. Di sisi
utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan yang
masing-masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur terdapat Arca
Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya
dengan aksamala (tasbih) yang dikalungkan di lehernya.
Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga
dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya
menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa.
Lingga dan yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air
suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir
melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Keluar dari candi induk dan menuju ke barat, anda bisa melihat ketiga candi perwara (pendamping) yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa candi perwara ini sengaja dibangun tanpa atap sebab ketika penggalian tak ditemukan batu-batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bulat cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen.
Bila telah puas menikmati keindahan candi, anda bisa
menuju ke ruang informasi. Beberapa foto yang menggambarkan lingkungan
sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi awal candi ketika
ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto-foto tentang proses penggalian dan
rekonstruksi candi yang berjalan puluhan tahun, termasuk foto
benda-benda lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari
perunggu yang kini disimpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati
merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Candi yang
semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam.
ConversionConversion EmoticonEmoticon