Sangat sedikit perempuan Jawa di abad ke-17 yang
ahli berkuda. Lebih sedikit lagi perempuan Jawa yang ahli berkuda dan mahir
memimpin perang. Pada masa itu, perempuan Jawa terkena tradisi pingit sejak
berumur 9 tahun. Sehingga wajar tak banyak perempuan Jawa yang bisa berkiprah
di masyarakat terlebih lagi di medan perang. Yang sedikit diantara yang paling
sedikit-bahkan mungkin satu-satunya-tertoreh sebuah nama agung Nyi Ageng
Serang.
Beliau tak hanya mahir berkuda dan pakar strategi
perang, tetapi juga pakar pemerintahan tanpa mengesampingkan nilai-nilai
kewanitaannya. Jika kebanyakan perempuan Jawa mengenakan kebaya dan kain, maka
Nyi Ageng Serang mengenakan celana panjang. Dia terlihat begitu gagah menaiki
kuda memimpin pasukannya. Dengan tombak di tangan kanan dan tali kekang kuda di
tangan kiri, beliau memimpin pasukannya menyerang VOC Belanda.
Nyi Ageng Serang memiliki nama asli Raden Ajeng
Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau lahir pada tahun 1752 di Serang, Purwodadi,
Jawa Tengah. Ayahnya bernama Pangeran Ronggo Natapraja atau biasa disebut
Panembahan Ageng Serang. Ayahnya adalah seorang bupati yang menguasai
wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang-Jawa Tengah.
Pada masa pemerintahan Panembahan Ageng Serang
ini sedang terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap VOC Belanda dan
kerajaan Mataram. Pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi ini
diikuti oleh semua bupati yang memiliki rasa patriotisme. Pangeran Mangkubumi
adalah seorang putera raja Mataram yaitu Sunan Amangkurat IV.
Meski seorang putera raja Mataram, tapi Pangeran
Mangkubumi sangat dekat dengan rakyatnya. Dalam Serat Cebolek dikisahkan
bahwa Pangeran Mangkubumi sangat rajin beribadah, sholat lima waktu berjamaah,
puasa Senin-Kamis, mengaji kitab suci Al Qur’an, dan suka beramal sholeh (
kebajikan ). Selain itu, Pangeran Mangkubumi juga senang mengembara untuk
menuntut ilmu dan mengadakan pendekatan pada masyarakat. Beliau juga gemar
memberikan pertolongan pada yang tidak mampu dan lemah.
Pangeran Mangkubumi yang mempunyai nama kecil
BRM. Sujono ini sangat benci terhadap penjajah Belanda. Sifat ksatrianya ini
sangan berlawanan dengan saudaranya yang diangkat menjadi raja Mataram setelah
ayahnya wafat yaitu Sunan Pakubuwono II. Jika Pangeran Mangkubumi sangat
benci dan menentang segala bentuk campur tangan Belanda di kerajaan, maka Sunan
Pakubuwono II justru sangat lemah. Pakubuwono II yang bernama asli
GRM.Proboyoso sangat lunak dan bersahabat dengan Belanda. Pada masa kepemimpinan
Pakubuwono II yang lemah inilah kerajaan Mataram menderita kerugian wilayah
yang sangat banyak. Seluruh pesisir utara pulau Jawa dan tanah Madura
diserahkan kepada VOC Belanda (Perjanjian Ponorogo 1743 dan Perjanjian 18 Mei
1746). Untuk pengangkatan Patih juga harus melalui persetujuan VOC Belanda.
Jadi dapat dikatakan Sunan Pakubuwono II hanya boneka, dan penguasa
sesungguhnya kerajaan Mataram adalah VOC Belanda.
Tak puas hanyai memiliki pesisir utara Jawa dan
tanah Madura, VOC Belanda memaksa Sunan Pakubuwono II yang sedang sakit keras
untuk menandatangani perjanjian baru. Dalam perjanjian baru ini disebutkan
bahwa seluruh wilayah kerajaan Mataram adalah milik VOC Belanda. Dan seluruh
keturunan Sunan Pakubuwana II dapat menduduki tahta atas pinjaman dari
VOC. Sunan Pakubuwono menandatangani perjanjian tersebut pada 16 Desember 1749.
Tak berapa lama kemudian Sunan Pakubuwono II wafat.
Kebencian yang sangat mendalam terhadap Belanda
dan kerajaan yang lemah, menyebabkan Pangeran Mangkubumi keluar dari kerajaan
Mataram. Ia memimpin pemberontakan. Pada tahun 1746, Pangeran Mangkubumi
baru memiliki 3000 orang prajurit. Kemudian di tahun 1747 meningkat jadi 13.000
orang prajurit diantaranya terdapat 2500 pasukan berkuda. Tiga belas tahun
kemudian yaitu tahun 1750 pengikut Pangeran Mangkubumi meningkat,
karena dukungan penuh dari rakyat. Pangeran Mangkubumi menunjuk Panembahan
Ageng Serang ayahnda Nyi Ageng Serang sebagai salah satu panglima perangnya.
Dalam suasana pemberontakan inilah Nyi Ageng
Serang tumbuh dewasa. Sebagai seorang puteri bupati sekaligus panglima perang,
ia belajar segala hal disiplin keprajuritan. Ia belajar berkuda, memanah,
dan menggunakan senjata lainnya. Keluarga Nyi Ageng Serang merupakan pendukung
setia Pangeran Mangkubumi hingga akhir hayatnya.
Kerajaan Mataram dan VOC Belanda kewalahan
menghadapi pemberontakan Pangeran Mangkubumi. Sunan Pakubuwono II sudah mangkat
dan diganti oleh Sunan Pakubuwono III. Tapi karakter Sunan Pakubuwono III
pun tidak jauh berbeda dengan ayahnya, menjadi boneka kompeni Belanda.
Akhirnya Belanda mengajak berdamai. Pangeran Mangkubumi diundang ke kerajaan
Mataram untuk berunding. Perundingan di desa Giyanti ini menghasilkan
Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Isi dari Perjanjian Giyanti yaitu
:
- 1. Pangeran Mangkubumi mendapatkan separo dari kerajaan Mataram
- 2. Pengeran Mangkubumi akan memakai gelar Sultan
- 3. Daerah pesisiran yang telah diserahkan oleh raja-raja Mataram terdahulu pada kompeni, tetap dikuasai oleh kompeni.
- 4. Ganti Kerugian sebanyak 20.000 real dari kompeni yang diterima oleh raja-raja Mataram terdahulu terhadap ganti rugi daerah pesisir itu, separo diberikan pada Pangeran Mangkubumi setiap tahunnya. ( 10.000 real/tahun ).
- 5. Separo dari pusaka-pusaka kraton Mataram diberikan pada Pangeran Mangkubumi.
Setelah penandatanganan perjanjian Giyanti
tersebut, Pangeran Mangkubumi mendirikan kerajaan baru yaitu Ngayogyakarta
Hadiningrat. Kerajaan baru ini tetap merupakan bagian dari kerajaan Mataram
yang berpusat di Surakarta. Setelah menjadi Raja, Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan
Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo
Khalifatullah.
Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I
ini berpindah ke daerah Yogyakarta beserta seluruh pengikutnya, termasuk Nyi
Ageng Serang. Setelah suasana damai, Nyi Ageng Serang kembali ke daerahnya di
Serang-Purwodadi. Ayahnya telah meninggal dalam salah satu pertempuran. Kemudian
ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Serang.
Sultan Hamengkubuwono I tetap menunjukan sikap
kooperatif terhadap kompeni. Ia menolak campur tangan kompeni dalam masalah
internal kerajaan. Ia juga sering mengadakan perlawanan terhadap Belanda
bersama pasukannya.
Waktu itu Nyi Ageng Serang sudah dewasa dan
menjadi prajurit handal. Ia beserta ayahnya (Panembahan Ageng Serang) dan
kakaknya (Kyai Ageng Serang) selalu berada dalam barisan terdepan pembela
kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia adalah satu-satunya prajurit perempuan
berkuda. Kemahirannya berkuda dan memainkan senjata menyebabkan ia menjadi
prajurit kehormatan.
Nyi Ageng Serang sangat membenci tindakan Belanda
yang semakin semena-mena. Setelah berhasil memecah kerajaan Mataram, Belanda
merampas tanah-tanah rakyat jelata untuk dijadikan perkebunan
pengusaha-pengusaha Belanda. Kemarahan rakyat meluap akhirnya meletuslah
Perang Diponegoro (1825-1830).
Perang ini dipimpin oleh Raden Mas Ontowiryoa
atau biasa disebut Pangeran Diponegoro. Ia adalah seorang Pangeran dari
kerajaan Ngoyogyakarta Hadiningrat yang sangat relijius. Memang Sultan
Hamengkubuwono I mendidik seluruh keturunannya untuk berada dalam ketaatan
kepada Alloh. Beliau juga menanamkan kebencian mendalam terhadap penjajah kompeni
Belanda. Sehingga tidak mengherankan apabila pihak intern kerajaan lah yang
mulai mengobarkan perang terhadap Belanda.
Nyi Ageng Serang diangkat oleh Pangeran
Diponegoro sebagai pinisepuh. Pengalamannya berperang puluhan tahun bersama
Pangeran Mangkubumi menjadikan ia seorang ahli strategi. Pangeran
Diponegoro selalu mendengarkan nasihat-nasihat Nyi Ageng Serang. Waktu itu usia
Nyi Ageng Serang sudah 73 tahun, tapi semangatnya tetap menyala-nyala. Dialah
yang memimpin pasukan “Siluman”. Sebuah pasukan gerak cepat yang
menggetarkan Belanda.
Dengan didampingi cucunya Raden Mas Papak
ia memimpin gerilya di daerah Serang, Purwodadi, Gundih, Semarang, Demak,
Kudus, Juwana, dan Rembang. Dalam perjalanan panjang tersebut ia ditandu oleh
pasukannya. Meski ditandu bukan berarti ia menjadi beban. Justru keberadaannya
sangat berarti bagi pasukannya. Ia menjadi pimpinan, ahli strategi, dan
pengobar semangat pasaukannya. Bahkan ketika perang gerilya di sekitar desa
Beku, Kabupaten Kulon Progo, ia memimpin langsung pasukannya.
Pangeran Diponegoro pernah menugaskan pasukan Nyi
Ageng Serang untuk mempertahankan daerah Prambanan yang telah direbut oleh
Tumenggung Suronegoro. Nyi Ageng Serang dan pasukannya mempertahankan
daerah tersebut dengan penuh kesiagaan.
Meski secara fisik sudah tua dan fungsi panca
inderanya menurun, tetapi kecerdasan Nyi Ageng Serang tak pernah ikut
menurun.Dia menggunakan berbagai macam strategi dalam perang Diponegoro ini.
Salah satunya yaitu strategi jitu penggunaan daun talas (Bhs. Jawa:
Lumbu). Dengan daun talas itu Nyi Ageng memerintahkan pasukannya melindungi
kepalanya untuk penyamaran. Sehingga dari kejauhan tampak seperti kebun tanaman
talas. Mereka mengendap-endap memasuki wilayah musuh. Kemudian musuh akan
diserang dan dihancurkan bila sudah dekat dan dalam jarak sasaran.
Pangeran Diponegoro sangat menghormati Nyi Ageng
Serang. Berbagai strategi yang dipakainya sering menghantarkan pasukan pada
kemenangan. Sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada Nyi Ageng Serang,
maka Pangeran Diponegoro mengangkat Nyi Ageng menjadi salah seorang
penasehatnya. Kedudukan Nyi Ageng sebagai penasehat sejajar dengan Pangeran
Mangkubumi dan Pangeran Joyokusumo dalam siasat perang.
Setelah tiga tahun mengikuti perang Diponegoro,
Nyi Ageng Serang dilanda sakit-sakitan. Kondisi fisik yang sudah tidak muda
serta kerasnya kehidupan perang gerilya membuat ia jatuh sakit. Akhirnya Nyi
Ageng mengundurkan diri dari medan pertempuran. Setelah itu ia menetap di rumah
keluarga Nataprajan di Yogyakarta. Dalam masa sakitnya ia tetap mengobarkan
semangat jihad fi sabilillah kepada para penjenguknya. Ia berpesan jangan
sampai takluk kepada Belanda. Lebih baik mati syahid daripada hidup dibawah
cengkeraman penjajah.
Setelah mengalami sakit beberapa bulan, akhirnya
Nyi Ageng wafat tahun 1828 pada usia 76 tahun. Pada saat kepergiannya,
Perang Diponegoro masih berlangsung dengan sengit. Sesaat sebelum kematiannya
ia berpesan kepada para laskarnya agar jasadnya dikebumikan di desa Beku
kabupaten Kulon Progo. Desa Beku adalah desa yang berhasil direbutnya semasa
perang gerilya. Ia ingin selalu menyatu dengan perjuangan. Ia tak sudi jasadnya
dikebumikan di tanah yang dikuasai Belanda.
Sungguh hebat rasa patriotisme srikandi dari
Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Semangatnya tetap berkobar hingga ajal
menjemputnya. Untuk menghormati jasa-jasanya, pemerintah mengangkatnya sebagai
salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia
No. 084/TK/Tahun 1974, tanggal 13 Desember 1974. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta
pun menghormatinya dengan membuat monumen Nyi Ageng Serang di proliman jalan
raya Wates-Jogja. Monumen tersebut berupa patung beliau yang sedang
menaiki kuda dengan gagah berani serta membawa tombak.
Sumber Klik Di sini
ConversionConversion EmoticonEmoticon